Saturday, September 6, 2014

MURDA ARTADAYA VS AYAT KURSYI

MURDA ARTADAYA VS AYAT KURSYI
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...
Kesaksian Fifi sesi dua ini mudah-mudahan bisa menambah pengetahuan para praktisi Ruqiyah Syar,iyah yg sedang dalam menghadapi jin yg memiliki kesaktian/ngelmu, dan juga mampu memotifasi pasien yg masih dalam pengaruh jin/sihir yg seolah tak berkesudahan sehingga kembalinya harapan untuk sembuh itu kian mendominasi hati dan pikiran daripada selalu merasa dalam tekanan pengaruh/serangan jin/sihir yg seolah sangat hebat dan kuat yg justru malah melumpuhkan hati untuk melawan/semangat.
Rupanya pembebasan nafs Fifi minggu lalu bukanlah ahir dari pertarungan melawan jin-jin yg ingin menghancurkan rumah tangga fifi yg baru berusia 1 bulan (penganten baru), melainkan itu baru permulaan menuju peperangan yg sesungguhnya.
Suami fifi kembali menelepon saya untuk secepatnya datang kerumahnya karena fifi kembali mendapat serangan dan konon katanya kali ini lebih makin tak karuan, fifi tertawa menantang, berjoget dan menari-nari, semua orang yg merintangipun diterjang, singkat cerita sayapun sudah sampai kerumahnya tapi kondisi fifi sudah tegeletak lemas ditempat tidur, menurut keterangan suaminya fifi baru saja pingsan setelah sebelumnya berjoget dan meneri-nari sambil tertawa menantang.
Selanjutnya saya mulai meruqiyah menggunakan tehnik yg kemarin, tehnik saat membebaskan nafs fifi dari alam jin, tapi ternyata tehnik itu sia-sia, Fifi masih tetap tertidur dan seolah tampa terganggu sedikitpun.
Menghadapi suasana semacam ini kita tidak perlu panik, agar intuisi kita tetap tajam dan kreatif, dan pastinya disetiap kasus baru biasanya kita akan mendapat tehnik baru yg penting kita harus menjaga batasan-batasan syar,i.
Reaksi yg sama belum tentu kasusnya sama maka sangatlah dibutuhkan kecerdasan dalam menanganinya agar pasien tidak menjadi babak belur akibat tehnik yg kurang tepat, contoh ketika menggunakan tehnik sembelih, jika satu atau dua kali sembelih jin tidak juga KO berarti ada sesuatu yg menghalanginya, dan langkah yg tepat adalah tentu mencari sebab penghalang tersebut sebab jika tidak, meskipun digorok berkali-kali hasilnya akan tetap sama, bahkan sijin malah tersenyum sementara kulit leher pasien sudah memerah kena bekas sembelihan.
Sambil menunggu intuisi selanjutnya saya terus membaca ayat-ayat ruqiyah hingga ahirnya saya mendapat sebuah kesimpulan, dalam keadaan pasien tertidur semacam ini menurut pengalaman yg sudah-sudah biasanya ada dua faktor penyebab, pertama nafs pasien dibawa kealam jin, kedua ini adalah bagian dari reaksi jin, reaksi jin ketika diruqiyah ada yg menangis, menjerit, mengamuk, tertawa, lemas dan mungkin juga tertidur. dan saya berkesimpulan ini adalah bagian dari reaksi, karena kalau akibat faktor pertama jika menggunakan tehnik penjemputan Alhamdulillah belum pernah gagal meskipun kadang alot akibat perlawanan, tapi kali ini ketika saya menggunakan tehnik itu sama sekali tidak ada respon.
Menindak lanjuti kesimpulan terahir yaitu bagian dari reaksi berarti penanganannya harus dgn menemukan titik dimana letak persembunyian ditubuh pasien, namun ternyata meskipun seluruh tubuh fifi sudah dideteksi bahkan bagian-bagian yg cuma halal buat disentuh suaminya itupun tidak ditemukan ketika saya menyuruh suaminya untuk mengecek daerah sana.. namun saya tetap yakin kalau ada titik yg terlewatkan, kecurigaan saya tinggal pada satu tempat yaitu bola mata.
Selanjutnya saya membaca Alfatihah lalu saya tiupkan pada mata fifi dan ternyata memang benar mata fifi berkedip-kedip meskipun belum terbuka tapi fifi malah tersenyum menyepelekan saya.. "heheheh kamu tidak akan bisa menghancurkan saya" ucapnya sambil kemudian tertidur lagi, saya tanya-tanya lagi sama sekali tidak ada jawaban namun ada yg memancing perhatian saya ternyata jari tangan fifi sedang dalam posisi seperti dalam gambar, saya coba melanjutkan bacaan ruqiyah dan jari tangan fifipun bergerak seperti orang berzikir lalu kembali pada posisi mudra.
dan begitu posisi jari sudah kembali pada simbol mudra seolah kondisi fifi makin kuat dan bacaan Al quran yg saya dengarkan seolah tak berpengaruh, tentu saja saya dgn meminta bantuan suami fifi untuk menahan agar jari tangan fifi tidak bisa melakukakan gerakan-gerakan mudra artadaya itu dgn memegang erat keempat jarinya kanan kiri.. hasilnya memang fifi menjerit-jerit kesakitan ketika diruqiyah tapi lagi-lagi fifi pingsan, ketika pingsan kembali saya tiup matanya dan sadar kembali lalu diruqiyah lagi begitu dan begitu seperti kesakitan tetapi tetap tidak adatanda-tanda kalah pada jin yg kini sedang mempengaruhi fifi malah mengulangi kalimat ejekan diatas "kamu tidak akan bisa menghancurkan saya".
Seperti yg saya tulis diatas, jika satu dua kali suatu tehnik digunakan tapi tidak ada tanda-tanda jin kalah berarti ada sesuatu yg menghalanginya.. maka saya suruh suami fifi untuk menekan bola mata fifi terutama bagian yg hitamnya dng lidah setelah sebelumnya membaca Alfatihah. dan benar saja fifi meronta dan menjerit menggelepar kesana kemari dan ahirnya lemah tak berdaya..
beberapa menit kemudian tangan fifi mulai bergerak seperti menari sambil komat-kamit dan jarinya kembali pada posisi mudra dan senyum dan kalimat tantangan kembali keluar dari bibir fifi... "Kamu tidak akan mampu menghancurkan saya"..
Saya terdiam sejenak untuk melakukan langkah selanjutnya, setelah saya coba untuk mengefaluasi dari awal sambil terus menjaga kesabaran agar tidak terpancing dgn sindiran jin itu, yg saya yakini sebagai tipu daya untuk memancing emosi saya, padahal kenyataan yg sesungguhnya adalah sebaliknya, yaitu keselamatannya sudah sangat terancam, buktinya adalah ocehan yg keluar dari mulut fifi, itu adalah bagian dari reaksi jin yg terluka akibat bacaan yg membakarnya meskipun ditutupi dgn senyuman dan tawa, sebab jika efek ruqiyah belum berpengaruh tentu fifi akan tenang-tenang saja..
Kesimpulan yg saya dapat dari efaluasi selama proses terapi adalah: saya merasa ada yg salah pada saat menghadapi kesaktian jin yg menggunakan simbol murda artadaya itu, dengan menahan jari tangan fifi supaya tidk melakukan gerakan-gerakan simbol itu, berarti secara tidak langsung saya meyakini kalau simbol dan mantra artadaya itu hebat.
Astagfirullah al'adziim... sungguh halus tipu daya mereka..
Saya beristigfar, selanjutnya saya melarang suami fifi agar tidak lagi melepaskan simbol yg dilakukan istrinya disetiap mendengar bacaan-bacaan ruqiyah, begitupun saya, yg saya pegang cuma pergelangan tangan fifi, sementara jari tangannya saya biarkan bebas terserah mau melakukan gerakan apapun karena saya yakin itu ajian sihir..
Ruqiyah saya lanjut kembali, saya baca ayat Kursyi dgn lebih tenang dan lebih mantap, sedangkan mulut saya dekatkan pada jari fifi dan meniupnya setiap selesai membaca ayat kursyi dan terus saya ulang meskipun jari tangan fifi makin cepat menggunakan simbol-simbolnya dan komat-kamitnyapun kian bersuara..
Murda artadaya... murda artadaya... murda artadaya.. suara itu makin jelas terdengar dari mulut fifi, saya coba mendekatkan telinga kemulut fifi untuk menangkap kalimat apa yg fifi baca, awalnya saya tidak paham dgn bahasa yg dia ucapkan krena saya memang baru dengar kalimat itu jadi agak sulit mengingatnya, baru setelah saya cari informasi digogle dengn mengklik yg diucapkan fifi, ternyata benar murda artadaya dan munculah keterangan dan gambar ini, sama persis dgn gerakan fifi..
Saya tidak memperdulikan lagi, saya terus membaca ayat kursyi meskipun fifi makin keras dan cepat membaca mantra dan jurus-jurusnya, kepala fifi mulai bergeleng hebat kekanan dan kekiri, tubuhnya mulai berguncang seperti kepanasan dan ahirnya tangan fifi terjatuh lunglai tak berdaya, Alhamdulillah fifipun tersadar dan menangis memeluk suaminya..
Saya meminta fifi menceritakan pengalamannya barusan, meskipun diwajahnya masih terlihat sisa-sisa ketakutan fifipun menceritakan pengalaman seru dan mengerikan itu, menurut fifi dia disana menjadi penonton, dia melihat pertarungan yg begitu dahsyat dan mengerikan, antara saya dan dua jin yg sakti, yg satu berpakaian laksana putri raja, dan yg satunya adalah sosok ular berkepala nenek-nenek yg dikepalanya menggunakan mahkota yg dihiasi lima batu warna-warni, dan ada batu paling besar letaknya ditengah mahkota namun posisinya agak diatas kepala warna putih seperti kaca yg sering mengeluarkan cahaya laser untuk membantu jin putri yg berhadapan dgn saya, sebenarnya sudah berkali-kali jin putri itu terkapar dan bersimbah darah, tapi begitu sinar dari batu mahkota itu masuk ketubuh jin putri, tubuh hancur itu kembali berdiri dan kembali utuh begitu jin putri merapal mantra dan melakukan gerakan simbol mudra, putri itupun kembali kuat dan siap menantang.. begitu dan begitu hingga pada saat terahir dari mulut jin putri itu muncrat darah segar dan ambruk dengan luka dan darah disekujur tubuhnya, mengerikan sekali karena benar-benar mandi darah.. sementara jin ular itu hanya dibelakang membantu putri tampa mau bertarung langsung

No comments:

Post a Comment

kesaktian berbuah penyakit

Ilmu kesaktian berujung penyakit ----------------------------------------------------- Oleh : Nopri Ardy Abdullah (Pejuang Ruqyah Syar...