Kisah Nyata: Tobatnya Seorang Ajudan Jenderal yang Juga Bertugas Sebagai Eksekutor

Dear,  sahabat Kompasiana.. Kali ini kami menceritakan sebuah kisah nyata perjalanan team ruqyah ABU ALBANI CENTRE dalam menangani pasien-pasien kami. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran.
Kisah ini bermula ketika kami dihubungi oleh seseorang untuk menangani kasus anggota keluarganya, dimana pasien dalam kondisi depresi berat hingga terkadang merasakan adanya keanehan-keanehan yang terjadi, sedangkan menurut pengakuan keluarga hal ini disebabkan oleh kejadian masa lalu yang kian lama semakin membebani psikologis hingga di masa tuanya. Sebutlah Bapak Marzuki, beliau merupakan pensiunan abdi Negara.
Berawal dari era Orde Baru beliau adalah orang yang gagah berani membela bangsa dan Negara demi keutuhan NKRI. seorang yang patuh dan tunduk terhadap aturan kesatuannya dan menjunjung tinggi sumpah kesatuan sebagai bentuk loyalitasnya terhadap Negara yang sama sama kita cintai , bahkan beliau menganggap intruksi atasannya adalah titah yang tidak perlu dipertanyakan dan diperdebatkan baik dalam masalah kecil atau sesuatu yang besar, singkat cerita beliau adalah seseorang yg sangat dibanggakan baik di tingkat kesatuannya maupun oleh Negara ,sejumlah penghargaan telah diterimanya baik dari orang no.1 di Kesatuan sampai pada orang no.1 di Negara ini yaitu Jenderal Soeharto (presiden republic Indonesia yg ke.2).
Bedasarkan fakta sejarah  dinegeri ini,  bahwa Negara ini sering di goncang oleh  banyak pemberontakan di beberapa wilayah yang pada waktu itu ingin merdeka dan membebaskan diri dari Negara kesatuan Republik  Indonesia.
Tidak terhitung beliau ini di tugaskan untuk menjaga keutuhan republic ini mulai dari pembebasan Irian barat sampai pada konfrontasi dengan Malaysia. pada beberapa intruksi yang sangat rahasiakan Negara ini beliau mendapat tugas mengeksekusi nama nama yg di cantumkan oleh Negara sebagai orang orang yang harus di eliminasi ( di lenyapkan ) dari semua kalangan yang dianggap berbahaya oleh penguasa dikala itu.
Menurut pengakuan beliau setiap tugas rahasia itu di berikan maka dengan tidak bertanya lagi apakah hal itu salah atau benar dia menjalankan dengan baik, termasuk melenyapkan beberapa tempat yang menjadi target,  beliau tidak peduli apakah di tempat itu ada anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan pemuda yang baik dan soleh mereka semua harus mati dan tidak boleh ada jejak dan saksi.
Naudzu billah tsumma na udzu billahi min dzalik !
Rangkaian eksekusi selalu di jalankan oleh beliau dengan  baik, yang beliau tidak sadari adalah karena  perilaku yang demikian akan membuat hati dan akal sehat menjadi rusak. Oleh sebab itu, dengan sifat dan karakter yang demikian beliau menjadi orang yang sangat ditakuti dilingkungan maupun rekan sejawat, tidak jarang karena kesalahan kecil saja banyak orang yang dianiaya. Istrinya pun tak luput dari perilaku sadis beliau. lebam di wajah dan seluruh tubuh sering dirasakan. Bahkan anak anaknya pun mendapat perlakuan laksana pendidikan militer yang apabila melakukan kesalahan akan mendapat sangsi berat secara fisik dan mental.
Ketika masa pensiun tiba ia menjadi orang yang sangat frustasi karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan seperti biasanya. Maka ia sering terlihat murung dan cendrung tertutup kepada orang-orang di sekitarnya. Satu persatu  ujian – peringatan dari Allah mulai diterimanya,  mulai dari anak bungsu nya yang terjebak narkoba sehingga menjadi pecandu berat dan pengedar kelas kakap, bercerai dengan istri yang sudah tidak sanggup menerima siksaan lahir maupun batin, kemudian kini penyakit yang mulai menggerogoti tubuhnya dimasa tua beliau. singkat cerita keadaan beliau saat ini layaknya seseorang yang mengalami gangguan jiwa (depresi berat) dan mengalami gangguan kesehatan yang akut.
Sudah tidak terhitung berapa rumah sakit yang menangani beliau namun hasilnya nihil,  belum lagi ketakutan dari anak anak beliau bahwa apabila ia di rawat di rumah sakit  Negara maka beliau akan di lenyapkan (di eliminasi) mengingat banyaknya rahasia Negara di tangan beliau yang akan terungkap di masyarakat apabila beliau bersuara.
Pernyataan ini bukanlah hisapan jempol belaka,  mengingat perjalanan hidup beliau sebagai seorang eksekutor yang ditugaskan melenyapkan siapapun yang menjadi ancaman. Sebagaimana halnya rekan sejawat beliau mendapati nasib nahas yaitu menemui  ajal secara misterius dikala dirawat di rumah sakit.
Pada saat proses pengobatan beliau,  team Abu Albani  merasakan hal yang sangat menguras emosi dan tenaga. Dimana pada saat kami datang,  beliau dalam keadaan muntah muntah di teras rumah sambil tidak henti hentinya menyumpah, mencaci dan memaki orang orang yang berada disekitarnya.
Bersambung…
(Temukan kisah selanjutannya esok hari.. Pada jam dan gelombang yang sama   ^_^ )

sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2013/05/30/kisah-nyata-tobatnya-seorang-ajudan-jenderal-yang-juga-bertugas-sebagai-eksekutor-564580.html

Comments

Popular Posts