anak ku diam seribu bahasa
Anaku diam seribu bahasa
Oleh muhammad hafidz
Dulu rumah ini riuh oleh suaranya... Sampai suatu hari, ia memilih bungkam. Bukan karena tak punya kata-kata, tapi karena jiwanya terlalu lelah menanggung beban yang tak sanggup ia urai sendiri.
Retaknya Dunia Kecil Sang AnakSemua berawal sejak kakeknya meninggal dunia. Sejak saat itu, rasa takut sering kali menyelimuti hatinya. Ia kerap menunjuk-nunjuk ke arah tertentu dengan tatapan cemas yang sulit kami pahami.Keadaan makin berat ketika ia harus dikeluarkan dari sekolah.
Sejak hari itu, ia makin ceruk, makin sedikit berbicara. Alih-alih mendapatkan dekapan hangat untuk meredakan ketakutannya, bentakan dan amarah orang tua kerap menjadi jawaban atas rengekannya.Ia mulai menyakiti dirinya sendiri... menyubit kulitnya hingga memar. Belum lagi fisik kecilnya yang harus berjuang menahan kejang dan epilepsi yang diidapnya sejak usia 3 tahun. Hingga akhirnya, puncaknya pun tiba:
ia benar-benar terkunci dalam diam. Tak ada lagi satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya.Teguran Allah Melalui UjianSebagai orang tua, kita sering lupa bahwa kesusahan, penyakit, dan ujian yang menimpa anak atau keluarga kita bisa jadi merupakan cermin dari dosa-dosa dan kekhilafan kita sendiri.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sebuah hadis:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ}Artinya:"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab ujian tersebut."(HR. Bukhari no. 5641 & Muslim no. 2573)
"Kami mengira ada sosok gaib yang menguasai tubuhnya. Namun saat doa-doa ruqyah dilantunkan, tabir itu terkuak: bukan setan yang menguncinya, melainkan luka dari tangan orang tuanya sendiri."
Ketika Tangis Pecah dan Kebenaran Terungkap Saat proses ruqyah berlangsung, kami tidak hanya membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga meminta kedua orang tuanya untuk meminta maaf secara tulus atas segala sikap kasar dan amarah yang pernah terlempar pada sang anak.
Di momen itulah, keajaiban terjadi Anak yang selama ini membisu tiba-tiba menangis sesenggukan. Dengan suara bergetar dan jeritan dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia berteriak:"Kesal! Kesal! Kesal! Ini bukan salah aku! Ini bukan salah aku!"Subhanallah...
Yang selama ini kita tuduh sebagai gangguan jin atau makhluk halus, ternyata adalah luka pengasuhan (parenting trap) dari orang tua yang belum paham cara merangkul emosi anak.
Rasa bersalah dan tekanan mental yang ia tumpuk sendiri itulah yang menyumbat suaranya.Setelah beban trauma itu diurai dengan permohonan maaf dan pelukan hangat orang tuanya, Alhamdulillah, atas izin Allah sang anak kembali bisa berbicara.
"Jangan terburu-buru menyalahkan jin atau sihir saat ujian menghampiri rumah tangga kita. Kembalikan semuanya kepada Allah. Mintalah ampunan-Nya, dan perbaikilah hubungan kita dengan amanah yang telah Dia titipkan."Pelajaran Penting untuk Kita SemuaKembali kepada Tauhid berarti menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, dan setiap masalah adalah ajakan untuk introspeksi diri (muhasabah).
Sebelum jauh-jauh mencari kambing hitam di luar sana, mari kita tengok ke dalam rumah kita sendiri:Apakah kita sudah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak kita?Apakah lisah dan tangan kita lebih sering melukai daripada memeluk?Anak adalah amanah yang bersih. Jangan sampai kemarahan dan ketidakpahaman kita menjadi dinding tebal yang memisahkan mereka dari kasih sayang dan petunjuk Allah. Mari merendahkan hati, memohon ampun kepada Allah, dan belajar menjadi orang tua yang lebih penyabar

Komentar
Posting Komentar