Tuesday, July 30, 2013

a kaffir jinn become a Muslim al hamdoulilah By RAQI ABU TH

a jinn responding to the Quran powerfull allah swt words

jinns exposed HAMDOULILAH by RAQI ABU THAR

Hijamah and ruqyah against black magic.part 1

a jinn getting punished by the Quran after he refuse to lea

reacting of one jinn after he heard sourah al qariah.

watch how allah swt expose this jinn after hiding for a goo

ruqya against jinn possession,the power of the Quran

ruqya performed on a sister full jinn possession.by (raqi) brother zied.

jinn diagnosis effect of sourat al naml,raqi Zied.

jinn diagnosis effect of sourat al naml,raqi Zied.

KISAH USTADZ JA’FAR UMAR THALIB “ADU ILMU” DENGAN PARANORMAL

Kisah ini  diceritakan ustadz ja’far (mantan panglima lasykar jihad) pada saya beberapa tahun lalu ketika saya mengantar Ustadz ja’far mengisi Ta’lim di wilayah Ngasem Yogyakarta.  Saya waktu itu biasa jadi sopir sekaligus pengawal ustadz ketika berpergian/ketika mengisi kajian.  Ustadz Ja’far menceritakan kisahnya……………………..

Beliau bercerita…………..ketika pondok salafy ihya As-sunnah degolan baru berdiri ( tahun 1995) ada seorang dukun yang sangat membenci da’wah salafiyah yg dibawa ustadz ja’far, paranormal itu dengan gagah berani mendatangi Pondok dan mengancam akan menyantet ustadz dengan aji kesaktiannya pada pada malam hari dan mengajak ustadz adu ilmu

sourat baqarah verse 26-27-28 exposing a jinn

Shaytan burning by the words of Allah swt

power of the Quran after 2 hours of recitation a jinn accep

a jinn leaves from the left hand with the help of allah swt.

Exposing the black magic (sihr) abu tharr/Zied

RUQYA ON A JINN WITH A DIRTY FILTHY TONGUE,BY ABU THARR (brother zied)

POSSESSION BY JINN IN THE HEAD RUQYA.BY RAQI ZIED.

effect of sourah al hashr against a kafir jinn. by raqi abu

A jinn lover reacting after hiding for a long time. BY RAQI

proses pembuatan air ruqyah syar'iyyah (1)

proses pembuatan air ruqyah syar'iyyah (2)

FAKTOR X DALAM RUQYAH [REHAB HATI QUR'ANI - IAIN PALEMBANG]

Garsya, Praktisi Ruqyah Cilik Jakarta [Rehab Hati For Family]

Menghancurkan Jimat (Tutorial Ruqyah Syar'iyyah 1)

Ruqyah Jin Kejawen - Breakdance (Rehab Hati Jakarta)

MEMBUAT AIR RUQYAH SECARA MASSAL

Kajian Ruqyah 2012 di jatim

Monday, July 29, 2013

DIALOG DENGAN JIN MUNAFIQ

29 Juli 2013 pukul 17:18

"Duduk yang rileks ya bu, tenangkan hatinya. Biarkan ia diam, hingga isinya hanya berukir Asma Allah saja"

Selepas shalat mutlak 4 rakaat, saya menyuruh klien saya duduk tenang menghadap saya disamping suaminya. 

"Ini dapat dari mana?" Ucap saya kemudian sambil memegang tasbih warna hitam yang ada disampingnya. Semenjak pelatihan Rehab Hati kemarin, ia terlihat sibuk dzikir dengan tasbih itu. 

"Dari ini.. yang berusaha mengobati saya, Al Hikmah. Cuman, sebenarnya saya tidak tahu ada isinya atau tidak dan saya tidak meyakininya. Dan dia bilang tasbih ini harus dibawa kemana-mana dan jangan dibawa ke kamar mandi"

"Astaghfirullah.. " Ucap saya sambil menggelengkan kepala. 

"Tapi, saya tidak menyakininya. Saya hanya memakainya untuk dzikir, seperti tasbih biasa aja. Saya hanya..."

"Betul, bu. Pengobatan-pengobatan seperti Al Hikmah, Hikmatul Iman, Tasawuf, dan paranormal-paranormalpun kadang pakai wirid dengan Dzikir dari lafal-lafal kalimah Allah" tukas saya. 

Bayi hampir Meninggal Karena 'ain , pentingnya mengetahui tentang 'ain

Disusun oleh : Muhammad Hafidz


Kisah nyata pada bulan april 2013
dari teman ana pak abu ali tetangga ana
beliau mempunyai cucu yang masih bayi yang lucu sekali , dan rambutnya tebal bahkan istri saya berkata memang anak nya lucu sekali
hari ke 8 di rumah sakit tersebut tidak ada perubahan , dokter yang menangani pun karena ada sesuatu hal di ganti dengan dokter lainnya , melihat riwayat penyakit bayi kecil ini dokter pun menyikapi untuk melakukan pemindahan kerumah sakit bintaro yang lebih lengkap peralatannya.

Gus Wachid : Saya Gagal Dakwah dengan Cara Perdukunan





SAYA MULAI belajar ilmu-ilmu perdukunan sejak masih Tsanawiyah. Tawuran yang menjadi tren ketika itu, membuat tekad saya untuk mempelajari ilmu klenik semakin kuat. Di sebuah pesantren, saya memulai belajar dengan puasa patigeni dan selametan pakai ayam jago. Hatinya saya yang makan, dagingnya yang makan kyainya. Wah, saya diakali thok...Kalau gitu yanayamul (Bahasa Arema: lumayan) buat kyainya (Tertawa). Kemudian disuruh puasa 40 hari. Setelah itu, untuk mengetahui sah tidaknya puasa dites. Tesnya dengan cara membaca wirid dulu. Salah satu wiridnya adalah: Ya maliki ya maliku, iyyaka nakbudu waiyyaka nastain. Jarum ditusukkan dan kulit saya disilet. Aneh, tidak ada darah yang keluar sedikitpun, walaupun adabekasnya. Pertanda puasa saya sah. Saya lulus.


Mona : Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul



"MONA (bukan nama sebenarnya), kamu berbakat jadi dukun hebat," kata kakek suatu sore. Kata bernada pujian itu terlontar dari bibir kakek setelah sekian bulan. la memantau perkembangan murid-muridnya. Murid yang istimewa, karena semuanya memiliki pertalian darah. Generasi saya adalah generasi kelima dari keluarga yang secara turun ternurun terkenal sebagai dukun kesohor di Jawa Tengah. Pendadaran yang langsung dibawah kendali kakek memang dimaksudkan untuk mencari penerus dari ilmu leluhur kami. Para dukun yang telahsekian puluh tahun malang melintang di dunia perdukunan. Dari kawah candradimuka ini akan terlihat siapa yang layak menjadi pewaris ilmu leluhur keluarga kami.

Nurma : 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua



TAHUN 1996, aku bekerja di salah satu supermarket ternama di bilangan Jakarta Timur. Akubekerja di bagian penjualan. Dari sana, hubunganku semakin luas. Tiap hari bertemu dengan pelanggan-pelanggan yang baru kukenal. Semua itu membuat sikapku semakin luwes. Aku lebihmudah berkomunikasi dengan sekian banyak watak dan karakter seseorang. Setelah sekian lamabekerja, masuklah pegawai baru. Tono, namanya. la masih kuliah. Untuk menambah pengalaman lapangan, Tono memilih kerja paruh waktu. Malam kuliah, siangnya bekerja. Orangnya pendiam dan tidak banyak bergaul dengan wanita. Kata pepatah, trisno jalaransongko kulino. Cinta itu datang kapan saja, lantaran seringnya pertemuan, menjadi kenyataan. Sikapnya yang ulet dan pantang menyerah membuatku tertarik.

Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghoib


  KUTINGGALKAN tanah kelahiranku di Sumatera di pertengahan tahun. Kuturuti kata hati. Merantau ke tanah jawa demi cita-cita yang membuncah di jiwa. Bukan gelar dokter atauinsinyur yang ingin kusandang. Atau atribut duniawi lainnya. Aku hanya ingin menyambungcita-cita orangtua yang belum kesampaian. Mereka telah lama ingin mendirikan pesantren. Tapi apalah daya. Keterbatasan pemahaman agama membatasi gerak mereka.

Sakit di Kaki Selama 7 Tahun yang Tidak Terdeteksi Medis

  Malam itulah awal dari keanehan demi keanehan terjadi dalam hidup saya. Pada saat jam menunjukkan pukul 01.30 malam, saya merasa ada yang membangunkan. Terasa betul kaki saya dipukul-pukul agar bangun. Hanya saja, saya berfikir untuk menunda bangun. Saya pikir yang memukul kaki saya adalah teman saya yang tidur di samping saya. "Ya nanti dululah …" kata saya. Karena saya dipukul lebih keras, akhirnya saya bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Saya melihat di kamar itu ada makhluk seperti manusia tetapi pendek botak dan berkulit putih. Pakai baju kotak-kotak merah putih dengan celana pendek hitam. Tapi saya tidak bisa melihat matanya.

DIRAMAL 50 TAHUN TIDAK DAPAT JODOH


Menembus gerbang pernikahan tidak semudaSample Imageh yangdibayangkan. Ada saja hambatan dan halangan yang harus dilewati. Seperti penuturan Hera, setidaknya tujuh pemuda yang dikenalkan orangtuanya, semuanya, mundur karena satu alasan. Jin turut campur dan tidak menginginkan perkenalan berlanjut kejenjang pernikahan. Ia menuturkan kisahnya kepada Ghoib. Berikut petikannya. 
Sebagai remaja yang baru menginjak dewasa, saya mulai terlibat dengan kegiatan di luar sekolah. Kebetulan saya dikaruniai suara yang cukup bagus, sehingga dengan mudah bergabung di sebuah grup musik (qasidah). Saya resmi menjadi penyanyi dan ikut dalam kegiatan kelompok ke sana kemari. Meski saat itu saya baru kelas dua SMP.
Dari sinilah cinta bersemi. Wiling Trisno jalaran saka kulino (Cinta tumbuh dan bersemi karena seringnya pertemuan). Dan itulah yang terjadi. Hanafi, anggota senior dalam kelompok kami menarik perhatian saya. Dengan penampilannya yang simpatik serta sikapnya yang dewasa, ia menjadi idola gadis remaja. Terlebih Hanafi termasuk anggota yang serba bisa. Bisa menyanyi dan memainkan alat musik. Tidak sedikit gadis yang mengidolakannya. Sehingga ketika berita keakraban saya dengan Hanafi perlahan tersebar, ada di antara mereka yang merasa tersaingi. Sebut saja Vivi, gadis kuning langsat dan tinggi semampai itu sempat melabrak saya.

Menjadi Homo Karena Jin Waria


Sodomi adalah kejahatan yang sangat kejam dipandang dari sudut apapun. Terlebih bila yang menjadi korban Sample Imageadalah anak-anak. Kemungkinan mengalami penyimpangan seksual di kemudian hari sangatlah besar. Seperti yang dialami Nanang (Nama Samaran), lelaki yang baru melangsungkan pernikahan 6 bulan yang lalu menceritakan kisah Ahad kelabu kepada Majalah Ghoib. Berikut petikan kisahnya.
Nanang, begitulah biasanya saya dipanggil. Saya lahir di Rembang, Jawa Tengah 28 tahun yang lalu dari keluarga tentara. Seperti karakter orang Jawa kebanyakan, bapak itu orangnya pendiam, wataknya lembut. Sangat bertolak belakang dengan anggapan sebagian orang bahwa tentara itu keras. Saya sendiri sebagai anak tentara tidak bisa menyalahkan bayangan mereka yang demikian. Sedangkan ibu adalah tipe orang yang suka mengalah tidak ingin membuat keributan dengan orang lain.

Wiridan Dua Juta Kali? overdosis


Dida, Mantan dukun yang hafal al-Qur’an
Menjadi orangSample Image sakti itu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan. Bila pengorbanan itu hanya sebatas materi, waktu dan tenaga tidaklah mengapa. Semua itu hanya bersifat sementara. Tapi kalau harus mengorbankan akidah, maka jangan coba-coba menjadi orang sakti. Derita berkepanjangan di akhirat segera menanti. Karena untuk menjadi sakti, mau tak mau harus bekerja sama dengan jin, seperti dituturkan Dida, mantan dukun yang bertaubat dan telah menamatkan hafalan al-Qur’an. Berikut petikan kisahnya.

Tujuh Kali Gagal Dilamar Karena Sihir


Janda kembang. Sudah tujuh tahun ibu Santi mendapat julukan itu. Dan, selama kurun waktu iSample Imagetu pula, tujuh orang telah gagal mengantarkannya ke pelaminan untuk dua kalinya. Hati siapa yang tidak terluka, hati siapa yang tidak menjerit ketika jodoh yang sudah hadir di depan mata itu akhirnya hilang kembali. Tinggallah ia dalam kesendirian, dalam penantian panjang merindukan datangnya jodoh. Hingga akhirnya ibu Santi dipertemukan dengan seorang lelaki yang kini menjadi suami dan calon ayah dari janin yang berusia dua bulan, dengan izin Allah, setelah mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Berikut ini adalah petikan kisahnya. 
Sebagai gadis Betawi, yang besar di Jakarta Selatan, saya termasuk gadis yang aktif di organisasi. Saya termasuk tipe orang yang suka bergaul dan selalu ingin mencari teman baru. Namun, dalam masalah jodoh, mungkin banyak orang bilang saya termasuk konservatif, karena saya mengikuti gaya yang jauh berbeda dengan anak muda jaman sekarang. Dan, saya tidak menyesalinya.

Saya Ketempelan ‘Jin Cathy’ dari Jerman


 
Jin bisa dilihat dan dSample Imageipegang layaknya manusia ketika mereka keluar dari hakekat penciptaanya, lalu menyerupai sosok manusia. Bisa diajak bicara, disuruh memijat atau dibonceng kemana saja. Seperti pengalaman Sri Handayani, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ia menuturkan kisah pergaulannya dengan ‘Jin Cathy’ kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.
“Brak…” dua sepeda motor beradu. Menimbulkan suara keras yang memecah keheningan di pagi buta. Seorang lelaki dengan sepeda motornya terpelanting. Nasi bungkus yang memenuhi jok motornya berceceran dan tak bisa diselamatkan. Pada sudut lain, Lek Triono yang membonceng saya juga terjerambab. Motornya terseret sepuluh meter dari tempat kejadian. Meninggalkan saya yang terduduk di atas aspal, persis di tempat kejadian. Aneh, saya tak mengalami luka, hanya sobekan kecil di celana. Itupun tidak sepadan dengan kerasnya tabrakan tadi.
Heran, saya benar-benar heran atas apa yang terjadi. Tabrakan keras itu tidak menimbulkan luka apa-apa. Hanya, kekuatan aneh yang mengangkat badan saya bersamaan dengan detik-detik tabrakan itu yang saya rasakan. Lalu meletakkan badan saya kembali dia atas aspal. Sementara Lek Triono yang membonceng saya pingsan seketika. Tangannya lunglai dengan darah mengalir dari wajahnya.
Saya cepat mengambil keputusan. Memanggul Lek Triono dan menuntun sepeda motor ke sekolah tempat saya belajar. Saya tidak berpikir membawanya ke rumah sakit karena yang terlintas dalam benak saya adalah takut mendapat hukuman bila terlambat datang. Maklum waktu itu adalah minggu-minggu awal mengikuti kegiatan wajib penerimaan siswa baru. Lagian, sekolah itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat kejadian.
Saya terlambat setengah jam dan nyaris dihukum merayap di jalan sepanjang enam meter. Akhirnya saya katakan, “Saya tabrakan. Sekarang Lek saya tidak sadarkan diri di depan.” Sanggahan ini membuat mereka terpana. Tabrakan keras yang terjadi tidak menimbulkan luka pada diri saya, sementara motor laki-laki saya patah rangka, tangki bensin juga goyang, meski tidak bocor.
Setelah tabrakan di pagi buta itu, saya sering sakit kepala tiba-tiba. Hanya karena keinginan saya tidak dikabulkan orangtua misalnya, kepala saya langsung berdenyut. Saya tidak bisa mendengar kata-kata jangan. Karena kata itu mengundang reaksi di kepala saya.
Selain itu, saya sering pingsan di sekolah hanya karena mendengar nama saya di panggil di pengeras suara. Panggilan yang biasanya diikuti dengan membuat nyali menciut, saya merasa tidak bersalah, namun mengapa harus menerima hukuman, bukankah itu kesalahan orang lain? Memang siswa yang bersalah masih satu kelas dengan saya, tapi tidak seharusnya bilan hukumannya harus diterima siswa yang tidak bersalah. Kekecewaan dan ketakutan itu membuat saya tidak sadarkan diri. Kejadian seperti ini sering kali berulang, hingga akhirnya para guru memahami dan tidak menghukum saya atas kesalahan orang lain.
Boleh dibilang kejiwaan saya memang labil dan sering tidak sadarkan diri. Sperti yang terjadi pada pertengahan tahun 2001. Saya tidak sadarkan diri selama 12 hari. Saya dibawa ke rumah sakit. Katanya, badan saya sudah dingin sampai leher, tinggal kepala yang masih hangat. Infuse sudah tidak berfungsi, tidak ada cairan yang menetes dan masuk ke dalam urat nadi. Grafik jantung di layar monitor juga tidak bergerak. Akhirnya pihak rumah sakit menyerah dan saya menjalani perawatan di rumah. Dalam perkiraan mereka, tidak berapa lama lagi saya sudah meninggal.
Di rumah, kondisi saya tidak mengalami banyak kemajuan. Hari demi hari berlalu dalam keadaan yang sama. Badan saya tergolek lemah di atas pembaringan. Pihak keluarga juga sudah pasrah, menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Mbah yang tinggal di Yogya dan Medan juga sudah datang. Mereka menunggui saya dengan harap-harap cemas.
Dalam keadaan yang kritis itu, saya merasa didatangi seorang kakek yang mengaku sebagai Mbah saya yang sudah almarhum, “Kowe iku putuku. Ojo loro-loro. (Kamu itu cucu saya. Jangan sakit-sakitan terus). Pokoknya ntar kalau sakit mamanya sedih, bangun ayo bangun!” ujar kakek itu sambil mengusap dahi saya.
Mata saya terbuka. Dan saya melihat Mbah dan keluarga lainnya sudah berkumpul. Mereka menangis bahagia melihat keadaan saya yang membaik setelah tidak sadarkan diri dua belas hari. Ini bukan waktu yang pendek. Di bawah tempat tidur saya sudah bau kapur barus. Karena saya divonis dokter telah meninggal, tapi bapak masih belum yakin. Ia bersikukuh bahwa saya masih belum meninggal.
Sebenarnya, ketika tidak sadarkan diri itu saya dapat melihat apa yang dilakukan orang-orang yang menjenguk saya. Apapun yang mereka katakana, saya dengar. Hanya saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat tidak sadarkan diri, saya seakan bermain-main di ruangan yang seba ungu. Akhirnya setelah saya sehat, saya mengecat kamar dengan warna ungu. Saya masih ingin mengenang saat-saat tidak sadarkan diri. Saat ketika keluarga membaca surat Yasin, atau detik-detik ketika mereka menangis dan meratapi nasib saya yang tergolek antara hidup dan mati.
Ketika tersadar dari pingsan itu saya menemukan sebuah batu kecil persegi enam yang tranparan di bawah bantal. Tidak ada yang tahu darimana asal-usul batu itu. Batu itu saya jadikan cincin karena ketika disimpan di dompet terkadang hilang dan lain kesempatan datang lagi. Pendek kata batu itu selalu hadir ketiak saya sedang gundah gulana, marah, sedih maupun kecewa.
Entah kenapa setelah memakai cincin, saya ingin jajan terus. Meski saya baru membeli bakso misalnya, dan tak lama kemudian ada penjual lain yang lewat di depan rumah, saya langsung ingin membelinya. Keinginan ini tidak bisa dicegah, karena bila dilarang akibatnya bisa fatal. Sesak nafas dan saat-saat berikutnya saya pingsan. Tabungan yang diberikan orang tua senilai enam juta habis dalam waktu tiga bulan.
Berteman dengan ‘Jin Cathy’ dari Jerman
Tahun 2002, saya mengikuti Praktek Kerja Lapangan di kapal pemerintah yang berlayar ke laut China Selatan dengan nomor lambung 543. Pelayaran yang sangat berkesan bagi saya, karena ketinggian ombak laut China Selatan bisa dipastikan di atas dua puluh meter. Ini adalah kesempatan yang langka dan tidak sembarang orang bisa bergabung dengan kapal ini.
Ombak yang menggulung menjadi pemandangan harian, sesekali diselingi angin-angin kencang yang menderu-deru. Pagi itu, saya berdiri di dek lambung kiri, memperhatikan permukaan laut yang bergerak-gerak tanpa henti. Ombak itu saling berkejaran sebelum akhirnya buyar memercikkan biuh membentur lambung kapal.
Saya menegok ke kiri, mata saya tertumpu pada sosok wanita yang berdiri di geladak kapal. “Ohh, cantik sekali,” gumam saya lirih. Rambutnya memakai korses dengan hiasan bunga yang indah. Serasi dengan kulitnya yang kuning dan blues panjang berwarna merah. Ia cantik sekali. Paras wajahnya menandakan bahwa dia tidak berasal dari Indonesia.
Semakin saya perhatikan, saya semakin heran. Wanita itu tidak tersentuh air. Pecahan ombak yang muntah ke geladak kapal tidak membuatnya basah. Padahal anak buah kapal yang sat itu berada di geladak kapal yang sama berlarian tidak ada yang menghiraukannya. Seakan mereka memang tidak melihat wanita cantik itu.
Wanita itu memperhatikan saya yang berdiri mematung. Perlahan, ia melangkah dengan anggun. Gaunnya berkibar di terpa angin kencang. Ia melangkah tepat mengarah ke tempat saya berdiri. Jantunfg saya berdegup semakin kencang. Wanita it uterus mendekat dan … … saya sudah berada di ruang perawatan begitu mata saya terbuka.
Kata perawat, saya ditemukan di geladak kapal dalam keadaan pingsan. Selam di ruang kesehatan wanita cantik yang misterius itujuga berada di dalam. Dia duduk di ranjang sebelah, tetap dengan balutan blues panjang warna merah. Ia duduk saja dan tidak mengusik perawat yang sesekali ke dalam ruangan. Nampaknya mereka tidak ada yang melihat wanita bule ini. Mereka hanya berbicara dengan saya dan tidak melihat atau ngobrol dengan wanita bule itu.
Selang beberapa lama kemudian, wanita cantik itu memecah kebuntuan. Ia memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. “My name is Cathy. I am Germany (nama saya Cathy. Saya berasal dari Jerman),” tuturnya lembut sambil melangkah ke ranjang saya.
 Wanita yang memperkenalkan diri dari Jerman itu pun duduk di samping saya. Dan tanpa diminta, ia segera memijat badan saya. Saya diam saja, menerima pijatannya, hingga kemudian saya menjawab perkenalannya juga dengan bahasa Inggris yang entah bagaimana tiba-tiba saja saya lancar berbahasa Inggris.
Singkat cerita jin Cathy ikut saya. Dia masuk ke tubuh saya. Dia menempel di punggung, katanya. Memang, saya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika jin Cathy berada di tubuh saya. Rasanya badan saya lebih ringan, begitu juga ketika dia keluar. Saya mengetahuinya dengan perubahan gerak saya yang sedikit melambat. Kedua telapak tangan dan kaki saya menjadi basah. Bila saya juntaikan telapak tangan saya, lama kelamaan jatuh tetesan air dari telapak tangan.
Selepas PKL, jin Cathy tetap menemani saya dan tinggal di kamar saya. Ia tidur di ranjang atas, bekas tumpukan kardus. Sementara saya tidur di bagian bawah. Kardus-kardusnya saya singkirkan semua. Sehingga tempatnya menjadi lega. Memang saya sadar sejak awal, bahwa Cathy bukanlah manusia. Ia adalah jin tapi dalam benak saya saat itu Cathy merupakan jin yang baik. Ketika dipijat Cathy, saya merasakan tangannya seperti ketika saya dipijit orang lain. Tidak banyak perbedaan yang saya temukan. Kecuali, ia tidak bisa dilihat orang lain.
Padahal sekian bulan saya menghabiskan waktu bersama Cathy. Dia selalu ikut kemana saya pergi. Ketika saya naik motor, maka Cathy membonceng di belakang, lain waktu ia mengiringi saya berjalan kaki. Ia menjadi teman layaknya manusia biasa. Bisa diajak bercanda atu bicara serius.
Memang, sesekali kehadiran Cathy menarik perhatian orangtua. Karena mereka merasakan kehadiran orang lain di rumah ini. Hingga ibu pun menegur, “Suka ada yang masuk ke kamarmu. Siapa dia?” Tanya ibu suatu siang. “Nggak apa-apa. Dia teman saya kok. Sekarang sudah pulang,” jawab saya dengan santai.
Saat bergaul dengan Cathy sakit kepala masih belum sembuh, meski saya sudah berobat secara medis. Akhirnya saya menerima tawaran Pak Rodi, orang pintar, yang katanya bisa mengobati. “Mau sembuh nggak?” Tanya Pak Rodi. Ia kemudian shalat dua rakaat yang katanya bagian dari proses pengobatan. Lalu memberi sebungkus garam. “Garam ini harus dijilat sebelum keluar dari pintu kamar,” tuturnya meyakinkan.
Obat yang terkesan mudah itu pun saya terapkan. Garam yang asin itu menjadi pemanis bibir saya. Bayangkan, dalam sehari berapa puluh kali saya harus menjilat lidah, lidah saya akhirnya meradang. Bukan kesembuan yang saya dapat, tapi justru tambahan penyakit baru. Akhirnya ritual menjilat lidah saya hentikan. Sebagai gantinya, saya diminta untuk membeli empat butir telur ayam Cemani seharga 240.000 rupiah dan harus ditanam di rumah.
Uang sejumlah itu tidaklah sedikit, sementara saya sendiri belum bekerja. Konsekuensinya saya harus berbohong kepada orangtua dan meminta tambahan uang. “Untuk beli pusa,” jawab saya, ketika ditanya ibu.
Meski telur ayam Cemani sudah saya tanam di rumah tanpa sepengetahuan orangtua, tapi hasilnya masih tidak kelihatan. Lama kelamaan, permintaan Pak Rodi makin meningkat. Kini ia menyuruh saya mandi dengan minyak wangi yang harus dibeli dari pak Rodi sendiri senilai 600.000 rupiah. Saran yang terkesan aneh itu saya turuti. Karena saya sudah tidak tahan lagi dengan sakit kepada dan sesak nafas yang selama ini mendera.
Lepas dari Pak Rodi, saya kembali terjerat kepada ulah orang-orang yang hanya mau untung sendiri. Ibu Diah yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib menerawang saya. “Mbak Sri memiliki tanda yang merugikan. Tanda itu harus dibuang melalui jengger ayam yang berbentuk kecil,” ujar Ibu Diah.
Keesokan harinya, saya membeli ayam jago yang berjengger kecil. Ayam itu kemudian dipotong dan saya disuruh menghabiskannya. Memang selama saya rajin bermain ke rumah Ibu Diah, sakit kepala saya cenderung berkurang. Tapi lama kelamaan saya dimanfaatkan Ibu Diah, saya diminta untuk membayar beberapa barang yang dia beli. Ia sama saja dengan Pak Rodi yang hanya memanfaatkan sakit saya.
Jin Chaty Menjauh dari Stand Majalah Ghoib
Atas saran kakak, saya konsultasi ke perwakilan Majalah Ghoib yang saat itu mengikuti pameran di Islamic Book Fair dengan ditemani Mbak Tias, teman dekat saya dan tentu saja jin Cathy yang masih terus mengikuti saya. Sebenarnya jin Cathy mencoba menghalangi saya konsultasi di stand Majalah GhoibIa menarik-narik rambut saya. Tapi saya bersikukuh untuk konsultasi. Akhirnya jin Cathy menunggu saya dan Mbak Tias di perempatan yang berjarak dua puluhan meter dari stand Majalah GhoibJin Cathy tidak berani masuk bersama saya.
Setelah konsultasi bebarapa saat Ustadz Ilham yang saat itu bertugas di stand MajalahGhoib memijat jari saya. Pijatan yang membuat saya menangis sebelum pingsan. Heboh, kata Mbak Tias, saya menjadi tontonan orang-orang yang saat itu berada tidak jauh dari stand Majalah GhoibSaya menjadi contoh langsung bagaimana sebenarnya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.
Senin berikutnya, saat hendak berangkat untuk terapi di kantor Majalah Ghoibsaya mengantuk luar biasa. Akhirnya mama menarik selimut dan guling saya. Tanpa ampun saya terbangun. Dalam keadaan setengah mengantuk, Cathy kembali mempengaruhi saya, “Tidur saja, masih capek kan? Kemarin baru dari pameran, masak sekarang pergi lagi,” bujuk Cathy. Saya bersyukur bila bujukan yang menghanyutkan itu tidak saya turuti. Karena dari sinilah berawal kesembuhan saya secara bertahap.
Saat terapi yang pertama, tidak terjadi dialog. Saya hanya merasa sakit ketika ustadz memijat jari kaki saya. Saya meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sepulang dari terapi ruqyah pertama, saya mulai tidak bisa melihat Cathy, sehingga ketika di berbicara saya hanya mendegar suaranya. “Cathy, lu ada dimana?” Tanya saya. “Saya ada disampinglu.” “Tapi saya tidak bisa lihat. Yang terlihat bantal dan guling saja,” kata saya.
“Kok nggak kelihatan? Tuh matanya kealingan. Kemarin matanya ditutup yah?” ujar Cathy sambil mengusapkan tangan ke mata saya. Tak lama kemudian, saya kembali bisa melihat Cathy.
Ketika saya merintih kesakitan karena pijatan ustadz yang masih terasa, jin Cathy langsun meledek, “Tuh, pada sakit kan?” “Emang begini yang namanya diurut, lu ikut biar tahu,” jawab saya balik.
Jin Cathy memang tidak mau ikut terapi ruqyah, ida memilih untuk tinggal di rumah. Waktu itu, saya masih belum tahu bahwa sesungguhnya jin kafir takut mendengar lantunan al-Qur’an.
Sebelum berangkat terapi yang kedua seminggu kemudian, jin Cathy kembali menghalangi saya. “Udah, jangan berangkat. Sekarang ada film bagus. Mendingan di rumah saja,” bujuk Cathy. Bujukan Cathy itu hampir saja meluluhkan niat saya untuk ruqyah, tapi berkat dorongan Mbak Tias akhirnya saya bisa mengalahkan rayuan Cathy.
Saat terapi kedua, seperti biasa saya meronta layaknya orang yang kepanasan. Beberapa saat kemudian, terjadi dialog, “Siapa kamu?” Tanya ustadz. “Saya bukan orang sini. Saya dari Jerman,” aku jin melalui mulut saya. Tidak seperti biasanya. Kali ini dari mulut saya terdengar jawaban.
Setiba dirumah, saya tidak lagi bisa melihat Cathy, saya mencoba mencarinya , namun hanya suaranya yang terdengar. Cathy mencoba mengusap mata saya kembali, tapi semuanya gagal. “Ya sudah kalau lu tidak percaya sama gue, gue mau pergi,” ancam Cathy kemudian. “Ya udah, pergi saja! Sudah ada Mbak Tias yang nganterin saya.” Akhirnya suar Cathy hanya sesekali terdengar.
Suara Chaty benar-benar hilang setelah mengikuti terapi ruqyah yang ketiga. Masih menyisakan sakit kepala yang sudah tidak lagi separah dulu. Saya tidak lagi mudah pingsan ketika menghadapi masalah baru. Bagi saya ini ada perubahan yang sangat bagus.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 45/3

Gagal Kredit 7 Milyar dari Bank Jin


“Untung tak dapat dSample Imageiraih malang tak dapat ditolak” Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan deritaMulyadi (nama samara). Seorang wakil manager perusahaan Jepang di Bekasi yang berasala dari Medan. Bagaimana tidak, harapan dan impian menjadi milyuner kandas di tengah jalan. Berganti dengan derita. Hidup tertatih-tatih delapan bulan lamanya. Dan, harus menjual rumahnya senilai tujuh puluh juta untuk membayar hutang setelah tertipu mentah-mentah melakoni drama peminjaman uang di bank ghoib. Berikut petikan kisah nyata yang disampaikan langsung ke Majalah Ghoib di rumahnya, di Bekasi.

MEMATAHKAN SERANGAN POLA MARANA GTUMMO DARI VAJRA MASTER GTUMO DENGAN ENERGI RUQYAH (DAYA/KEKUATAN DARI BACAAN AL-QUR’AN) ATAS RIDHO DAN PERTOLONGAN ALLAH

Pola serangan Marana Gtummo ini dengan mengerahkan kelompok jin bersayap pernah saya kisahkan juga menyerang saya ketika mengendarai mobil hendak pulang kemesuji, semula saya hanya bertindak defensive hanya berniat membentengi diri dengan ayat kursi namun berkali-kali jin bersayap itu berusaha mendekati dan menakut-nakuti saya (jika saya takut maka akan celaka saya) namun setelah saya mengubah niat menjadi represif (menyerang) saya membaca ayat kursi lalu saya hembuskan ke makhluk tsb cepat sekali berakhir gangguannya. dan ternyata sahabat (informan) saya juga diserang pola sihir marana gtummo ini beberapa hari yang lalu…
Berikut ini kisahnya:

Tuesday, July 23, 2013

Sihir Orang Ketiga Gugurkan Janin Saya Dua Kali



Sample Image
Masa-masa kehamilan menjadi hari yang menyenangkan bagi seorang wanita. Harapannya membumbung tinggi seiring dengan pergerakan janin yang lincah. Datangnya si buah hati seakan tinggal menunggu waktu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan … tangisan kebahagiaan pun memecah kesunyian. Masalahnya. Tidak semua orang hamil merasakan kebahagiaan ini. Sebagian dari mereka ada yang menggantinya dengan derita dan tangis yang memilukan. Lantaran janin yang menemaninya kini telah gugur. Terlebih bila tersirat ketidakwajaran dalam keguguran ini. Seperti kisah Ibu Rosalia, mantan karyawan swasta. Dua kali ia keguguran, lantaran kedengkian mantan teman kerjanya sendiri. Ibu Rosalia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta Timur, dengan ditemani ibu dan suaminya. Berikut petikan kisahnya.

Bertingkah Aneh Karena Bisa Melihat Jin


 
Sample ImageSosok anak kecil (8 thn) berkaca mata yang tinggal di Bekasi itu terkesan tenang dan pendiam. Tapi siapa sangka di balik ketenangannya itu ia menyimpan sebuah kisah penuh misteri. Awal mula keanehan itu seakan merupakan suatu kelebihan, karena si anak bisa melihat jin yang tidak terlihat oleh orang yang bersamanya. Namun, perjalanan selanjutnya ternyata melahirkan suatu penderitaan yang beruntun yang harus ditanggung oleh “si anak ajaib” itu. 
Dirumah orangtuanya yang asri, merangkap sebagai tempat pembelajaran anak-anak, Majalah Ghoib berbincang santai dengan kedua orangtuanya. Inilah penuturannya. 
Terus terang keluarga saya secara turun temurun, senang mempelajari ilmu kanuragan. Mulai dari buyut, kakek, hingga ayah. Bedanya, ayah tidak suka menggunakan kepandaiannya dan tidak mau mendalaminya. Setiap orang yang mempelajari ilmu semacam ini suka ataupun tidak, tentu sadar bahwa ilmunya itu bisa turun kepada anak-anaknya. Dan itulah yang terjadi pada keluarga saya. Hingga sekarang. Saat ini saudara saya masih ada yang memperdalam kemampuannya, sampai bisa menghilang dair pandangan orang lain. Hal ini sangat disadari ayah dan beliau tidak ingin saya mewarisi ilmunya ini, sehingga beliau berusaha keras melindungi saya yang kebetulan adalah anak yang paling disayanginya. Disamping itu, saya merupakan satu-satunya anak perempuan di keluarga.
Meskipun saya tidak mewarisi ilmu itu, bukan berarti saya bisa bernafas dengan lega. Sebab saya juga khawatir ilmu itu akan terwarisi oleh anak saya, karena menurut hitungan uwak saya, ilmu itu akan diwarisi oleh Andi (nama samaran), anak saya yang kedua. Saya masih belum menyadarinya hingga suatu hari saya menderita sakit. Temperatur panas badan saya sangat tinggi. Dan keesokan harinya saya langsung berobat ke dokter. Saya terperangah, seakan tidak percaya ketika mendengar penjelasan dokter. “Ibu mengidap penyakit kelenjar getah bening dalam taraf yang sudah akut. Ibu harus menjalani operasi”. Demikian dokter menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium kepada saya dan suami. Seakan tersambar Guntur di siang hari, saya tidak percaya. Bagaimana mungkin demam yang baru saya derita satu hari dinyatakan sudah akut dan harus dioperasi. Padahal sebelumnya saya tidak merasakan gejala orang sakit kelenjar getah bening. Saya hanya pasrah, “Kalau sakit itu merupakan ujian, saya harus bersabar.” ltu saja yang membuat saya terus semangat beribadah.
Namun, untuk menjalani operasi kelenjar getah bening terus terang saia saya masih belum siap, dan secara kebetulan ada beberapa teman yang memberikan informasi bahwa di Sukabumi ada pengobatan alternatif yang terkenal. Akhirnya dengan ditemani suami saya berobat ke sana. Sepulang berobat saya dikasih rajah yang harus direbus dengan cara-cara tertentu dan diminum selama empat puluh hari. Terus terang, saya tidak tahu apakah ada kaitan antara sakit yang diderita Andi dengan peristiwa yang saya alami ini, sebab kejadiannya memang susul menyusul.
Muncul keanehan-keanehan
Andi mulai mengalami perubahan yang diluar nalar. Bagaimana tidak. la mulai bisa melihat sesuatu yang ghoib, sesuatu yang tidak dilihat oleh orang-orang yang bersamanya, meski orang itu adalah kami,  orangtuanya sendiri. “Bapak jangan duduk di kursi itu, karena sudah ada yang duduk di sana nanti bapak menyakitinya,” kata Andi kepada ayahnya yang hendak duduk di sebuah kursi. Kejadian seperti ini seringkali berulang. Bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah. Andi sering melihat makhluk lain yang menakutkan di sekolah. Sehingga guru-gurunya di sebuah sekolah TK saat itu heran, mengapa Andi tidak mau bermain dengan teman-temannya, tapi sering mengikuti gurunya kemana pun dia pergi.
“Pak, Bu. Sekarang apa yang dialami Andi sehingga ia harus mengikuti gurunya kemana-mana?” tanya seorang gurunya kepada kami. Ketika hal itu saya tanyakan kepada Andi, ia menjawab, “Soalnya di sekolah itu banyak ninja. Kalau Andi di ayunan, ia ikut di ayunan. Kalau Andi di perosotan ia ikut di perosotan. Saya takut. Orang-orang asing itu juga terkadang ada di antara teman-teman Andi”, katanya. Terus saya meminta Andi mendiskripsikan “Pokoknya seperti ninja. Hitam-hitam,” lanjut Andi. “Aku tidak mau lagi sekolah, sebab orangnya terlalu banyak. Dan orang itu tidak Andi kenal”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2000, saat Andi masih sekolah TK kelas B.
Andi semakin sering melihat anak kecil berkepala botak dan berkulit hitam. Bahkan saat selanjutnya, ia juga melihat wanita tua. Setelah tiba di rumah dia langsung berteriak, “Tuh kan, ia sekarang sudah menunggu.” “Siapa yang menunggu?” Tanya saya. Sebab saya tidak melihat siapapun di rumah. “ltu, nenek tua yang sering Andi lihat di sekolah,” jawab Andi. “Bagaimana rupanya?” saya merasa penasaran juga. “Nenek berambut panjang,” Andi mencoba menjelaskannya.
Andi tidak mau main dengan teman-temannya ketika di sekolah. Padahal selama ini, dia anak yang biasa-biasa saja. Di rumah, dia mulai mempunyai kebiasaan aneh. Dia sibuk dengan tembok, kelihatan asyik ngobrol sendiri di tembok. Kadang-kadang, kalau sedang bermain dia banyak bebicara, seperti ada temannya. Padahal dia cuma sendirian. Apa yang diobrolkannya pun tidak jelas. Terkadang tanpa bicara hanya dengan bahasa isyarat, seakan di depannya memang ada anak seusianya dan mereka kelihatan asyik sekali bermainnya. Kalau kita menemaninya. Dia akan diam, lalu memandang kita dengan raut wajah ketakutan. Setelah kita pergi, dia kembali asyik dengan mainannya.
Suatu ketika saya bilang, “Andi, kalau mama lagi ngajar, kamu main ya, sama teman-teman”. Dia malah tidak mau, “Tidak usah, suruh pulang saja, Andi berani kok main di rumah sendiri”, kata Andi.
lntensitas gangguan yang dialami Andi juga semakin sering, bahkan wujud yang dilihatnya juga semakin aneh. Wujud yang tidak lazim. Kali ini, yang dilihat orang bertanduk, sangat menakutkannya. Hingga suatu saat, ketika Andi sedeang di kamar, dia meloncat kepada ayahnya sambil berteriak, “Dia meloncat lewat jendela dan sekarang ia mengganggu Andi”. Hal itu sudah keterlaluan dan mengganggu Andi.
Ternyata, apa yang diderita Andi itu semakin kuat seiring dengan semakin seringnya saya berobat ke Sukabumi hingga empat kali. Saya berpikir, “Kok Andi begini, kok saya begini?” Saya juga sering bermimpi melihat dua orang jelek, persis seperti yang diceritakan Andi. Dari mimpi itu saya membayangkan wajah orang yang sering dilihat Andi. Memang menakutkan.
Masalah bertambah
Setelah kondisi Andi semakin mengkhawatirkan, ibu menyuruh saya untuk membawanya ke uwak, karena ia juga bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Agar Andi diobati. Sepulang dari uwak, kemampuan Andi tidak berkurang, bahkan semakin tajam.Uwak pernah memandikannya dengan air kembang tujuh rupa dan meminta kain hitam. Kemudian uwak membacakan do’a-do’a pada kain hitam yang dicelupkan di air. Setelah itu Andi disuruh meminumnya.
Ternyata, uwak semakin mengasah ketajaman penglihatan Andi. Misalnya ketika ada orang yang punya masalah, uwak minta Andi untuk menyebutkan berapa jin yang mengganggu orang itu. lstilahnya, Andi menjadi penyambung antara uwak dengan jin. Ya, kalau ada pasien yang datang, uwak menyuruh Andi untuk melihatnya.
Demikian juga ketika uwak menjenguk saya, pada saat sakit saya kambuh kembali, “Andi, coba lihat pada mama itu ada siapa?” kata uwak dengan tenang. Akhirnya Andi yang menyebutkannya.
Peristiwa ini menyadarkan saya bahwa apa yang dilakukan uwak itu tidak benar. Saya ingin Andi sembuh dari gangguan yang menyakitkan ini. Saya ingin Andi menjadi normal seperti anak-anak lain yang menikmati dunianya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kemampuan Andi semakin dipertajam. Sehingga Andi bisa melihat makhluk yang lain, bukan hanya anak kecil berkepala botak dan kedua orang tuanya. Dia juga melihat ada dua monyet di dalam rumah neneknya, atau ada sesuatu yang ditaruh di bawah pohon kelapa.  Andi tahu semuanya. Terus terang, uwak saya itu memang punya khadam dari jin.
Secara diam-diam, uwak memberi kalung kepada Andi. Setelah saya tahu bahwa ada sesuatu yang dibungkus di dalam bandul kalung itu, dan saya yakin itu adalah rajah. Segera, saya cabut kalungnya dan saya buang. Terang saja uwak marah melihat barang titipannya saya buang. “ltu pendamping anakmu” alasan uwak. “Kalau uwak bilang itu sebagai pendamping, sayatidak setuju”, jawab saya dengan tidak kalah sengitnya.
Waktu kalung itu saya buang, Andi kelihatan mulai berubah. Dia bisa menghabiskan makanan yang secara logika tidak mungkin anak seumur Andi sanggup menghabiskannya. Karena makanan yang berupa kue itu, saya siapkan untuk kami berlima, seluruh anggota keluarga. Selain itu, cara makannya juga tidak wajar, misalnya dengan membuka lebar jari-jarinya dan mengambil nasi yang cukup banyak untuk ukuran mulutnya. la juga makan dengan tangan kiri. Sampai akhirnya saya bertanya-tanya. “lni anakku atau bukan, ya?” Bukan hanya itu, Andi juga bisa menghabiskan daging ayam separuh. Makannya juga aneh. Dengan mengeluarkan suara dan matanya kelihatan beringas. Selesai makan, saya bertanya, “Andi, maaf ya. Mama mau tanya. Andi tadi makan ayamnya kok banyak sekali?” “Tidak, Andi tidak makan”. Jawabnya, la tidak sadar bahwa makanan itu ia yang menghabiskan semuanya. la menyangkalnya dengan ngotot. Padahal saya meihat sendiri cara dia makan tadi.
Ucapannya juga sudah aneh-aneh, “Ma, tadi ada bapaknya ke sini”, katanya “Anaknya itu di sini, ma. Sekarang ibunya yang berambut panjang, sedang mengejar-ngejar anaknya, disuruh pulang,” lanjut Andi. Rupanya ia diikuti oleh anak jin yang berkulit hitam sejak dari sekolah. “Tapi anaknya tidak mau,” katanya. Saya tanya lagi, “Kenapa tidak mau?” “Dia mau main sama Andi,” jawab Andi.
Semakin lama keanehannya semakin bertambah. la makan dengan cara tertentu. Bila sudah sampai hitungan ke sembilan ia berhenti makan, walau makanan itu belum habis. Ketika makan pisang, misalnya. Setelah sampai hitungan sembilan dia langsung berhenti. Makan apapun akan berhenti setelah sampai pada hitungan sembilan. Hingga bapaknya pun terkadang menggoda, “Andi sudah sampai sembilan, belum?” jadi malah kita jadikan gurauan.
Tapi saya semakin berpikir “Kok aneh ya”. Dalam kondisi seperti itu Andi malah sering berani menggoda gurunya, “liiih, di belakangnya ibu ada temannya, kan?” Sampai akhirnya saya lebih khawatir ketika dia mulai diajak beberapa teman saya ke rumahnya dan disuruh untuk melihat apakah ada sesuatu yang aneh atau tidak di rumahnya. “Andi, coba lihat. Apa di rumah ini kosong apa nggak dari makhluk aneh?” pintanya.
Terapi Ruqyah Syar’iyyah
Sebulan kemudian, ia berubah drastis. Sekarang menjadi penakut, dan tidak pernah lagi menyebut melihat  sesuatu. Tapi malah ketakutan, “Ma, Andi takut, temanin Andi, ma!,” akhirnya saya tanya, “Kamu lihat yang menyeramkan, ya?” Saat itu, Andi mulai tidak mau mendiskripsikan apa yang dilihatnya. “Pokoknya, Andi takut. pokoknya, Andi takut”. Dari situ saya mulai berpikir untuk mencari pengobatan buat Andi. Banyak orang yang menyarankan ke sana kemari. Hingga akhirnya saya membaca Majalah Ghoib. di samping itu saya juga mulai mengikuti kajian kelslaman di sebuah lembaga lslam. Dari sini, Alhamdulillah saya menemukan jalan.
Singkat kata, saya langsung tertarik dengan pengobatan ruqyah ini. Sebab saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Akhirnya saya, suami dan Andi pergi ke kantor Majalah Ghoib untuk terapi ruqyah. Saya ingat, saat itu kami harus menunggu giliran, sambil istirahat di halaman rumah. Ketika sedang menunggu giliran, Andi sudah mulai gelisah dan menghabiskan semua bekal makanan yang saya bawa. Waktu disuruh masuk Andi juga tidak mau. Akhirnya saya bujuk. Setelah diputarkan kaset ruqyah, Andi berontak dan lari. Lalu ia ditenangkan oleh Ustadz Musyaffa. Tak lama kemudian Andi ditangani oleh Ustadz Junaedi dan Ustadz Fadhlan. Saat itulah Andi mulai tenang.
Kebetulan, saat itu ada seseorang yang sedang diruqyah dan kelihatan ada reaksi dari jin yang di tubuhnya. Ustadz Fadhlan berkata. “Andi, lihat! di depanmu ada apa?”. “Andi tidak melihat apa-apa. Andi cuma melihat orang berbaring saja”. Jawab Andi. “Ya sudah, berarti jin yang bersama kamu sudah hilang.” komentar ustadz Fadhlan. Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih atas pertolongan tim ruqyah Majalah Ghoib, karena sejak saat itu, Alhamdulillah Andi sudah tidak bisa melihat jin.
Setelah proses ruqyah Andi selesai, saya juga minta diruqyah. Barangkali saya juga mengalami gangguan yang sama. Ternyata benar, saya juga kemasukan jin. Waktu itu, ustadz Fadhlan sempat bilang “Bu, mungkin ini keturunan”. Saya memang belum sempat cerita tentang latar belakang keluarga saya. Sebulan kemudian saya datang lagi. Saat itu saya melihat Andi sudah mulai berubah. la bilang “Andi kan tidak sakit, Andi kan tidak seperti orang itu, Andi kan tidak terganggu jin”. Saya pikir anak saya ini masih kecil dan tidak bisa dibawa ke pengobatan masal seperti ini. Akhirnya saya bilang kepada ustadz Junaedi bahwa saya ingin belajar ruqyah dengan tujuan saya bisa menangani anak saya sendiri. Dalam perjalanan selanjutnya, Alhamdulillah, saya bisa meruqyah dan bisa membantu orang lain yang merasakan derita gangguan jin.
Memperoleh wawasan baru
Untuk menghilangkan gangguan jin secara total pada usia belum baligh, memang agak sulit. Oleh karena itu, saya berusaha membangun benteng yang melindungi kami dari gangguan jin. Saya mencoba mengajak Andi ikut berdzikir. Pada bulan pertama dia bisa ikut berdzikir, tapi pada bulan kedua saya lihat reaksinya sudah berubah. Dia sudah mulai tidak mau shalat, saya suruh berdzikir juga tidak mau. Akhirnya, saya mengajaknya menemui ustadz Junaedi. Beliau bilang, “lbu, pertahanannya bukan di Andi, pertahanannya pada ibu dan bapak. Karena Andi masih belum punya pertahanan apa-apa dan jangan dipaksa”. Dari sini saya semakin rajin belajar agama dan rutin ibadah.
Saya juga tidak pernah menyerah menghadapi kasus Andi, akhirnya saya memutuskan untuk berbicara terbuka kepada Andi, akan problem yang dihadapinya. Saya mengajaknya bicara dengan bahasa anak-anak, “Andi kondisi kamu itu sebenarnya begini lho, kamu itu diganggu, kamu itu harus punya pertahanan seperti ini”. Dengan pendekatan seperti itu, Andi mulai mau berdzikir kembali. Cuma memang prosesnya itu sangat memberatkannya. Kadangkala saya menemani Andi berdzikir, saya bilang, “Andi berdzikir satu lingkaran saja, tiga puluh tiga kali”. Dengan membaca ,"Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan bagi-Nya seluruh kekuasaan dan segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Baru berdzikir sekitar dua puluh kali, Andi sudah jatuh terjungkal. “Mama, Andi tidak kuat”. Katanya. “ltu bukan Andi, Andi harus kuat, Andi harus melawan”. Saya mencoba menguatkannya. Akhirnya ia berdzikir dengan terbata-bata. “Ya Allah lindungilah anak saya,” saya berdoa dengan cucuran air mata membasahi pipi. Kemudian saya menelpon Ustadz Junaedi. Kata beliau, “lbu jangan terlalu memaksa, kalau Andi bisa berdzikir sepuluh kali, ya sepuluh kali saia. Kalau bisa dua puluh, Ya puluh kali saja. Jangan terlalu dipaksa”.
Akhirnya, saya perlonggar lagi dan saya biarkan dia berdzikir sendiri. Tapi yang terjadi justru diluar di luar perkiraan saya. Dzikirnya sudah berubah. Dia berdzikir “Golajong ....”Lafadz dzikir itu aneh dan tidak saya pahami, hampir semua kata-katanya itu tidak terlepas dari huruf G. Akhirnya saya perhatikan kembali dan saya dengarkan dengan seksama. Eh, ia berdzikir seperti yang saya ajarkan. Ketika tidak saya perhatikan, dia kembali berdzikir dengan dzikir yang aneh. Akhirnya saya pikir ini hanya masalah tarik ulur saja. Dan saya berpikir, “Saya harus memperkuat diri sendiri terlebih dahulu, kemudian Andi”.
Di samping itu, saya memutar kaset ruqyah dua puluh empat jam tanpa jeda. Awalnya Andi bilang, “Ma, matiin deh, kepala Andi pusing.” Saya tidak menuruti kemauannya, kaset itu tetap saya putar sampai akhirnya Andi marah lalu mematikan kaset. Saat selanjutnya, saya menangkap Andi menggendongnya, lalu saya meruqyah-nya. Hingga Andi menangis. Saya membiarkannya menangis, asalkan gangguan itu hilang. Tak terasa saya pun menangis tersedu-sedu, meskipun demikian saya harus terus membacakan ayat ruqyah. Sungguh, saya tidak tega melihat penderitaan yang dialami buah hati saya yang masih kecil. Rasanya sungguh berat derita yang ditanggungya. Padahal dia tidak tahu masalah apa-apa. Saya berharap ini adalah cobaan terakhir yang dialami keluarga saya. Dan tidak ada orang lain yang mengalami nasib seperti anak saya ini.
Mungkin karena kaset itu sering diputar, sehingga Andi sendiri sudah hafal bacaan ruqyah itu. Dan saat ruqyah berikutnya, karena memang membiasakan meruqyahnya, setelah saya membaca beberapa ayat Andi langsung meneruskannya sendiri. Lalu saya menelpon tim ruqyah, saya sampaikan apa yang terjadi. “Nggak apa-apa ibu, semoga itu Andi sendiri yang membaca,” kata Ustadz Junaedi. Sampai suatu ketika Andi bilang, “Mama, boleh nggak aku belajar sama ustadz Fadhlan saya mau bisa ruqyah”. Lalu saya tanya “Apa kamu bisa hafal bacaan-bacaan ruqyah?” Akhirnya dia membacanya dan memang dia hafal. Dia juga sering melihat saya meruqyah.
Sebulan lalu saya sempat membawa Andi ke tim ruqyah Majalah Ghoib. Karena sekarang serangan jin itu terjadi di waktu ashar atau maghrib. Saya tidak tahu sebabnya, tiba-tiba Andi menangis, tapi tidak mengeluar-kan air mata. Terkadang mengamuk dengan tanpa sebab. Setelah saya tanya, “lngatkah kalau Andi tadi nangis?” “Nangis?” katanya dengan nada tidak percaya. “Tadi kan Andi digendong mama”.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sekarang, setelah ashar Andi sudah tidak boleh keluar ia harus sudah ada di dalam. Dan kita selalu memutar kaset muratal. Selain itu sehabis Maghrib saya berusaha meruqyah Andi, ia gelisah dan mengeluarkan keringat sebesar jagung. Sungguh penderitaan yang berat.
Alhamdulillah, pengaruhnya itu sangat baik, sekarang ini Andi kalau dzikir sudah tidak harus disuruh lagi. Bahkan bilang, “Habis maghrib mama harus mengetes hapalanku”. Begitu juga kalau akan pergi sekolah dia juga minta dibacakan do’a, “Ma, tolong bacakan do’a untuk Andi”. Do’a-do’a yang sering saya bacakan untuk Andi adalah “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk ciptan-Nya”. Sebenarnya dia sendiri sudah hapal do’a-do’anya, tapi rupanya do’a saya itu terasa lebih menenangkannya.
lnilah sepenggal cerita perjalanan saya dan buah hati saya. Semoga hal ini bisa dijadikan pelajaran dan bahan renungan oleh siapapun. Terutama saudara dan kerabat saya yang masih menekuni ilmu warisan tersebut. Teriring do’a semoga Allah menjadikan kita orang yang mau mengikuti kebenaran walau pahit rasanya.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Melawan Sihir Kiriman Pejabat


Sample ImageOrang-orang memanggil saya Marjo, lahir di Nganjuk 34 tahun yang lalu. Sejak tahun 1994, saya memiliki banyak kegiatan lintas kabupaten di Jawa timur. Mulai dari Nganjuk hingga Surabaya. Bepergian dengan sepeda motor Surabaya – Nganjuk sebanyak dua kali adalah rutinitas mingguan. Namun, sejak tahun 1998 saya mengurangi kegiatan luar kota, karena suatu sebab yang saat itu belum saya sadari. 
Saya lebih banyak aktif di Nganjuk dan mendirikan LSM yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Hasilnya, banyak kecurangan pejabat yang terbongkar. Namun, rupanya mereka tidak rela kecurangannya diketahui banyak orang. Dan dengan cara kejam mereka membalas dendam. Dengan melakukan apa yang sering orang sebut dengan melakukan santet. Dua orang aktifis LSM meninggal. Sungguh licik memang.

Sakit Kulit Setelah 7 Tahun Menjalin Cinta


 
Sample ImagePacaran, di zaman sekarang dianggap sesuatu yang lumrah dan wajar saja. Seorang anak yang tumbuh remaja dan belum mempunyai pacar dianggap sebagai anak yang kurang bergaul dan tidak laku. Padahal keburukan yang tersembunyi di balik racun asmara tersebut lebih mengerikan daripada manisnya. Disamping balasan atas pelanggaran norma agama, kesengsaraan dan penderitaan akibat pacaran juga tidak terhitung banyaknya. Seperti yang dialami Meilawati, seorang perawat yang mengalami gangguan alergi kulit akibat putus pacaran di tengah jalan. Orang yang selama ini diharapkan menjadi pendamping hidupnya justru telah mengirimnya guna-guna. Meilawati menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Cibubur. Berikut kisahnya. 
Saya tumbuh dewasa menjadi seorang gadis tomboy. Dengan gaya yang berbeda dengan anak gadis lainnya. Sedikit berangasan dan ceplas-ceplos. Lantaran penampilan saya yang demikian itu, saya menjadi sandaran bagi teman-teman saya yang lemah. Bila ada di antara mereka yang diganggu oleh anak laki-laki, mereka mengadu kepada saya. Saya tidak terima melihat teman saya diperlakukan semena-mena. Saya pun tidak tinggal diam. Saya labrak anak laki-laki yang kurang ajar itu. Tidaklah mengherankan bila tidak ada anak laki-laki pun yang berani mendekati saya.
Hingga suatu hari, saat saya masih duduk di bangku SMP kelas dua, Ana, teman akrab saya menantang saya. “Ti, ada cowok cakep di kelas tiga. Namanya Alex. Kamu bisa nggak dapatin dia?” Saya penasaran, seperti apa sih orang yang dipanggil Alex itu. “Mana sih anaknya?” “Tuh lagi main bola,” seloroh Ana.
“Lumayan juga tuh cowok,” gumam saya. Merasa mendapat tantangan dari Ana, rasa iseng saya muncul. “Jangan panggil Wati, kalau tidak bisa dapatkan dia.” “Ayo kita buktikan,” timpal Ana sambil cengar-cengir. Melalui Ana, saya mencoba memancing perhatian Alex dengan cara memberinya salam.
Beberapa hari berikutnya saya mendapat kabar dari Ana bila salam saya sudah disampaikan, “i, salam kamu sudah saya sampaikan.” “Terus dia ngomong apa?” tanya saya penasaran. “Alaaa Wati, kayak cowok saja kok. Gue tidak suka sama dia,” tutur Ana menirukan jawaban Alex. Saya tidak terima karena ini adalah penghinaan. Akhirnya saya mencari Alex dan mendampratnya habis-habisan. “Loe jangan menghina gue ya. Jangansok ganteng. Yang lebih dari loe tuhgue bisa dapet.”
Jadilah pertemuan pertama itu meniadi ajang pertengkaran, hingga akhirnya berujung kepada suatu pertanyaan menggantung yang keluar begitu saja dari bibir saya. “Jadi kamu maunya apal” “Ya, aku mau sama kamu. Kamunya gimana?” tanya Alex.
Karena saya sudah taruhan dan tidak mau dilecehkan, akhirnya saya menyambut uluran tangan Alex. Kisah cinta gaya anak SMP Yang selama ini hanya menjadi tontonan saja bagi saya, sudah mulai saya rasakan. Satu hal yang terus berlanjut hingga saya lulus SMP sementara Alex tidak melanjutkan sekolah ke SMA.
Setamat SMP saya melanjutkan sekolah di Bandar Lampung. Jauh dari rumah orangtua dengan Alex yang tinggal di Lampung Selatan. Hari-hari saya jalani seperti biasa. Bertemu dengan teman-teman baru dan kegiatan yang sedikit berbeda ketika di SMP. Surat dari Alex, sesekali mampir ke tempat kos-kosan. Menghangatkan kembali kenangan masa lalu.
Benih cinta yang belum layu semakin mekar saat Alex menyempatkan diri untuk sesekali berkunjung ke Bandar Lampung. Kisah cinta yang tidak selalu berjalan mulus. Rasa cemburu sering menghantui diri Alex. la merasa bahwa ada beberapa teman SMA Yang juga tertarik kepada saya, sementara ia sendiri tidak setiap saat mengetahui apa yang saya lakukan. Sehingga perubahan potongan rambut saja, Alex sudah blingsatan. la takut bila saya berpaling kepada lelaki lain.
Pertengkaran pun tidak bisa dihindari. “Terserah, kalau masih tidak percaya,” ujar saya emosional. Pertengkaran yang berujung pada ketidakmunculan Alex di Bandar Lampung hingga setahun. la sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Surat yang biasanya sebulan sekali datang luga tidak pernah lagi mampir.
Hingga suatu hari ada seorang teman yang menyampaikan kabar bahwa ada surat untuk saya di kantor. Ketika saya mau mengambilnya, ternyata surat itu sudah tidak ada. la bahkan sudah ada dalam genggaman Andi, kakak kelas yang selama ini menunjukkan rasa simpatinya kepada sapa. Saya langsung merebutnya dari belakang. Dari sini akhirnya Andi mengakui bahwa ia sudah lima kali mengambil surat saya.
Tanpa terasa waktu tiga tahun telah berlalu. Masa-masa SMA telah berakhir, dan berganti dengan dunia baru. Di sini, saya masih ingin meraih cita-cita yang lebih tinggi. Saya tidak ingin sekadar menjadi ibu rumah tangga tanpa membawa bekal yang cukup berarti untuk masa depan saya dan keluarga.
Saya diterima di Akper Padang angkatan 99. Satu hal yang harus disyukuri, karena sebelumnya gagal ketika mendaftar di Yogya. Waktu yang tidak terlalu lama di Yogya telah merubah perilaku saya. Dari anak tomboy bercelana jeans dan berkaos ketat berganti dengan kaos lengan panjang dan berjilbab. Perubahan drastis yang sempat menjadi gunjingan teman-teman SMA. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap tegar melangkah dengan perubahan yang terjadi.
Kuliah di Padang dan jilbab yang menghiasi kepala masih belum bisa menghentikan kisah cinta saya dengan Alex. Surat maupun obrolan singkat via telpon menjadi alternatif lain. Meski sebenarnya sebelum berangkat ke Padang, ibu telah berpesan agar saya tidak berpacaran. “Kamu mau kuliah atau mau pacaran. Kalau mau pacaran tidak boleh kuliah.”
Karena itu, saya tidak pernah mengajak Alex berkenalan dengan orangtua saya. Selama ini semuanya masih menjadi rahasia kami berdua, hingga pertemuan pun harus dilakukan di luar sepengetahuan keluarga. Kesempatan pulang ke Lampung yang hanya setahun sekali, praktis saya habiskan bersama keluarga. Tidak ada kesempatan untuk bertemu Alex. Di samping memang saya belum ingin hubungan ini diketahui orangtua.
Untuk itu, pada tahun kedua Alex mengalah. la yang datang ke Padang, meski pertemuan itu pun tidak terlalu lama. Di sela-sela jadwal kuliah saya. Terakhir, setelah saya selesai kuliah, Alex menjemput saya. Dia ingin membantu saya mengangkut barang-barang saya. Waktu itu, Alex menginap di rumah sepupuh saya.
Awalnya saudara sepupu saya bertanya siapa dia. Saya ceritakan saja apa adanya, bahwa Alex hanya lulus SMP dan masih belum kerja. Dia hanya membantu orangtuanya berkebun di Lampung. “Pikir-pikirlah dulu, sebelum terlanjur,” hanya itulah komentar saudara sepupu saya.
Awal Perubahan
Juni 2003, saya merantau ke Jakarta dan ikut menumpang di rumah paman di Tangerang. Untunglah saya tidak harus menganggur terlalu lama. Surat lamaran yang saya kirim ke berbagai instansi mendapat jawaban dari sebuah klinik di Tangerang. Dari sini, saya mulai bersentuhan dengan dunia kerja dan teman-teman yang berkarakter macam-macam.
Perbedaan pulau bukan halangan bagi hubungan saya dengan Alex. Alex di Lampung dan saya di Tangerang, tapi hubungan kami masih lancer-lancar saja. Surat serta telpon yang menjadi penyambung kesetiaan kami.
Sejujurnya, saya sendiri merasa aneh dengan perasaan cinta yang seakan berlebihan. Siang malam wajah Alex selalu terbayang, terlebih bila sedang tidak ada kerja. Kerinduan yang mencapai ubun-ubun hingga terkadang saya menangis. Tangisan yang berganti dengan canda ria begitu telpon berdering atau ada surat yang datang.
Bahkan perintah Alex yang menyuruh saya keluar dari klinik pun saya turuti begitu saja. Hanya karena ada seorang karyawan yang tertarik kepada saya. Sebut saja namanya Lesmana. Tapi entahlah  bagaimana Alex bisa tahu bila ada yang suka sama saya. Padahal saya tidak bercerita apa-apa tentang Lesmana dan saya pun tidak jatuh cinta kepadanya. Dulu, sewaktu masih di Padang Alex memang sempat mengancam biln saya berpaling darinya, “Siapapun tidak akan bisa menikahi kamu. Mudah bagiku untuk membunuhmu. Dari jauh juga bisa. Misalnya kamu di Jakarta atau di Padang. Ah, gampang bunuh orang. Darimana saja juga bisa Foto kamu kan ada padaku. Adil kan. Aku nggak dapat. lbu kamu nggak dapat. Suami kamu juga nggak dapat. Kamu mati masuk neraka.”
Lepas dari klinik di Tangerang, saya diterima bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta di Jakara Timur. Dan hubungan kami kembali lancer seperti biasa. Hingga pada suatu hari di bulan Januari abang saya datang ke Jakarta- Abang menginap di rumah paman. Mungkin abang merasa saya sudah dewasa, sehingga ia bertanya kepada paman siapa sebenarnya pacar saya. Dan tanpa ditutup-tutupi paman bercerita siapa sebenarnya pacar saya.
Mendengar kabar bahwa saya sudah menjalin cinta dengan Alex bertahun-tahun, abang naik pitam. la merasa telah dibohongi oleh adik yang telah di besarkannya dengan keringat. Saya dianggap telah mencoreng arang diwajah, terlebih bila yang menjadi pacar saya adalah Alex, orang yang dalam pandangan abang kurang baik dan tidak layak menjadi suami saya.
Abang langsung menelpon Alex dan memintanya untuk menjauhi saya. Hal ini saya ketahui setelah Alex menelpon saya. “Ti, abangmu di Jakarta ya?. Dia nelpon saya agar menjauhimu.” Saya panik. Rahasia yang selama ini terbungkus rapi, akhirnya terbongkar juga.
Terus terang, saya takut bertemu abang. Tapi jam 9 malam, abang menelpon dan mengatakan bahwa ia langsung balik ke Lampung. “Ti, abang mau ke Lampung.” Melalui telepon, abang kembali mengingatkan saya untuk segera mengakhiri pacaran dengan Alex.
Bimbang, ragu, gundah bercampur aduk menjadi satu. Cukup lama saya terdiam kaku memilih langkah yang harus diambil. Terus terang, ini bukan keputusan mudah. Saya seperti memakan buah simalakama. Tapi salah satu harus dikalahkan. Setelah menimbang cukup lama akhirnya saya memutuskan untuk menuruti saran Abang. Dengan kata lain, saya harus segera mengakhiri petualangan cinta bersama Alex.
Saya menelpon temannya Alex dan menitip pesan agar Alex segera ke Jakarta. Setelah hilang rasa penat, barulah saya menceritakan semua yang terjadi. Saya mengajaknya mengakhiri pacaran. “Saya tidak bisa menentang Abang saya. Semenjak ibu meninggal, Abang yang membiayai kuliah saya. Dan saya juga berencana untuk kuliah lagi.”
Alex nampak tidak terima dan tidak mau putus di jalan. Saya sadar memang tidak mudah melupakan orang yang kita kenal selama ini. Untuk itu saya berusaha memutus hubungan dengan Alex secara perlahan. Keinginan Alex untuk datang pada hari ulang tahun saya di bulan April 2004, juga saya biarkan. Terlebih memang pada saat itu juga ada teman-teman yang datang. Kebetulan pada saat yang sama Yanto, teman kerja yang tertarik dengan saya juga hadir. Alex semakin cemburu. la benar-benar merasa kisah cintanya segera berakhir. Dan akhirnya pulang dengan membawa kepedihan.
Derita sakit kulit membawa saya berhubungan dengan paranormal
Bulan Mei 2004, tidak seperti biasanya saya merasakan ada keanehan pada kulit di sekujur tubuh saya. Bentol-bentol berwarna merah menghiasi kulit kuning langsat yang selama ini saya banggakan. Gatal. Dan semakin gatal bila digaruk. Awalnya saya kira ini adalah sakit biasa. Teman-teman juga menganggap saya alergi ikan laut.
Beberapa hari kemudian, perut saya sakit. Rasanya mual. Semakin lama semakin parah. Awalnya sehari ke kamar kecil cuma sekali, esoknya sehari tiga kali. Hari berikutnya empat kali. Rasa sakit di perut kian hari tambah parah.
Hari-hari berikutnya setiap hari saya harus disuntik oleh teman sesama perawat. Benjolan merah di sekujur badan sempat mengempis dan hilang. Dua jam kemudian benjolan merah yang gatal itu datang lagi. Begitu seterusnya sampai mulut saya jontor karenanya. Dokter yang sempat merawat saya hanya mengatakan bahwa saya alergi dingin. Dan untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya dokter merekomendasikan saya untuk check up di RSCM. Setelah check up di RSCM hasilnya juga tidak banyak berubah. Gatal-gatal di kulit tetap saia tidak mau hilang. Bahkan lebih parah hingga saya sampai berteriak-teriak.
Melihat berbagai kejanggalan itu, salah seorang teman menyarankan saya untuk berobat ke Chandra (nama samaran) seorang paranormal di Ciledug, Tangerang. Malam Jum’at di bulan Juli, saya nekat ke  Ciledug dengan diantar seorang teman. Sebenarnya saya hanya ingin ahu, apakah penyakit saya ini medis atau tidak. Tapi semua itu justru menjadi awal keterikatan saya dengan paranormal. Dengan memegang telapak tangan saya, Chandra menerawang. “Benar Ti, kamu sudah lama kena guna-guna.” “Sudah lama kamu dijerat ajian putar giling,” lanjut Chandra. Saya langsung down dibilang begitu, meski tidak percaya sepenuhnya.
Untuk itu saya harus dimandikan dengan kembang. Memang, setelah mandi kembang. badan saya menjadi lemas. Bayangan tentang Alex mendadak hilang. Padahal biasanya saya selalu memikirkan tentang dia, sedetik pun hati saya seakan tidak bisa terlepas dari bayangannya.
Tiga hari kemudian saya kambuh lagi. Akhirnya saya datang lagi ke Ciledug. Begitu seterusnya setelah sembuh beberapa hari, lalu kambuh lagi. Lantaran tidak punya pilihan lain, saya menceritakan semuanya kepada paman yang tinggal di Tangerang. Dari cerita itu mereka membawa saya ke seorang  paranormal perempuan di Tangerang. Sebut saja namanya Widuri.
Entah apa yang dibaca oleh Bu Widuri sehingga tiba-tiba saja suaranya berubah seperti suara nenek-nenek. “Oh... ini memang tidak benar.” Sejurus kemudian ia menaruh daun sirih di lengan saya. Dan ... terjadilah apa yang harus teriadi. Dari balik daun sirih keluar tujuh buah silet yang sudah karatan. Saya merasakan memang ada sesuatu yang mengalir di lengan saya. Pedih rasanya. Bibi yang menemani saya, hanya bisa menangis. la tidak tega melihat keponakannya diperlakukan sedemikian rupa Kemudian saya di bawah ke dalam kamar. Menurut Bu Widuri untuk menangkal guna-guna itu di dalam kulit saya harus ditanam emas.
Saya bilang saya tidak punya emas selain yang menempel di badan. Akhirnya saya korbankan dua buah anting-anting saya untuk ditanam. Meski saya ragu apakah memang anting-anting itu benar-benar dimasukkan ke dalam kulit saya. Pasalnya waktu itu tidak boleh ada yang melihat. Saya hanya berdua dengan Bu Widuri di dalam kamar. Selain itu saya masih harus menyerahkan uang 250 ribu untuk beli kambing yang katanya dipakai untuk penjagaan rumah saya. Saya tidak peduli apakah uang itu untuk beli kambing atau tidak.
Terus terang saya seperti kerbau dicocok hidungnya. Apapun permintaan Bu Widuri selalu saya turuti. Bila memang membawa kesembuhan pada, diri saya. Bila memang gatal-gatal di kulit akhirnya hilang dan tidak kumat lagi. Tapi hasilnya jauh di luar harapan. Sakit kulit tetap mendera bahkan semakin parah.
Sakit kulit yang menurut beberapa orang akibat guna-guna itu masih belum bisa memalingkan saya dari bayangan Alex. Ketakutan akan kehilangan dia membuat saya semakin tertekan luar dalam. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih yang dibanggakan dari dirinya? Dia hanya lulusan SMP dan belum kerja. Sehari-hari dia hanya membantu orangtuanya mengurus kebon.
Seperti yang terjadi pada bulan Agustus, saya nekat menemui Alex yang jauh-jauh datang dari Lampung ke Jakarta. Meski saya menangkap kesan dia tidak lagi seperti dulu. Dingin dan kurang perhatian. “Mas, aku alergi Mas. Bengkak semua. Kulit bentol-bentol semua. Merah. Mulutku juga jontor. Terus gimana Mas?” saya mencoba meminta jalan keluar. “ltu salah cowok kamu.” Seperti disambar halilintar, saya mendengarnya. Belum hilang keheranan saya, saya kembali dibuatnya ternganga. “Diguna-guna kali kamu sama cowok kamu,” ujarnya acuh tak acuh. “Kamu sadar nggak sih ngomong kayak gitu. Cowok saya itu kan kamu?” “Ya cowok kamu yang lain,” sergahnya. Pertemuan yang berbuntut pada pertengkaran sehingga saya memilih untuk pulang duluan.
Pertengkaran kembali berlanjut keesokan harinya, ketika dia mengajak bertemu lagi. Juga karena keluhan yang saya sampaikan. “Mas aku pusing.” “Minum saja inex, biar mati sekalian.” Saya heran dengan perubahan yang terjadi. Alex benar-benar telah berubah. la tidak lagi seperti dulu.
Saat itu, saya kembali menegaskan bahwa hubungan antara kita tidak bisa berlanjut. Saya tidak mau menjadi anak yang durhaka dengan melawan orangtua. Terlebih bila Alex memang tidak bertanggung-jawab. Dia hanya mau menang sendiri walau harus menyakiti orang lain.
Keputusan besar sudah dibuat dan tidak ada lagi alasan untuk surut ke belakang, meski sebenarnya hati kecil saya masih belum rela. Tapi semuanya harus diputuskan. Walau kulit terus gatal setiap hari.
Hingga pada suatu hari dokter Farid memberi saya kaset rugyah. Saat saya memutarnya di rumah, saya muntah-muntah. Karena itulah maka saya mendaftarkan diri untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib hingga tiga kali. Saat terapi yang pertama saya sampai muntah darah. Saya juga sempat teriak-teriak. Setelah ruqyah yang pertama saya merasakan kepala menjadi ringan.
Sepulang dari ruqyah saya berusaha untuk selalu mengaji dan membaca surat al-Baqarah. Beberapa minggu kemudian saya mengikuti terapi ruqyah yang kedua. Dan Alhamdulillah, setelah mengikuti terapi yang kedua, saya tidak lagi teringat bayangan Alex. Sakit kulit yang telah berbulan-bulan itu pun hilang dengan sendirinya seiring dengan ketekunan saya untuk shalat malam dan membaca al-Qur’an, selalu membaca basmalah sebelum makan serta membaca al-Ma’tsurat.
Selain itu, perasaan saya menjadi tenang ketika berada di rumah. Padahal dulu, baru membuka pintu sala saya sudah merinding. Teman-teman yang sering main ke rumah iuga merasakan hal yang sama. Bahkan antara sadar dan tidak ada seorang teman yang merasa seperti dicekik saat tidur di ruang tamu. “Uni, Uni bangun Uni,” saya membangunkannya. Sebelumnya memang terdengar suara berdebum di atas genteng. Seperti ada benda yang jatuh, tapi entahlah. Kita tidak berani mencarinya.
Saya bersyukur setelah mengikuti terapi ruqyah, gangguan yang saya alami selama ini telah hilang. Bayang-bayang Alex iuga tidak lagi menghantui saya. Meski saya akui bahwa ada saat-saat tertentu kenangan lama itu muncul kembali.
Namun satu hal yang saya syukuri bahwa saya bisa keluar dari masalah yang menyesakkan ini dengan lapang dada. Saya kembali menemukan keceriaan dan ketenangan setelah sekian lama hidup di bawah bayang-bayang dan ketakutan akan kehilangan seseorang. Padahal dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya masa lalu yang mengisi lembaran kelabu masa remaja saya. Semoga Allah mempertemukan saya dengan seorang laki-laki yang bertanggung iawab. Dan tentunya dengan proses yang sesuai dengan ajaran lslam. Saya ingin jilbab yang melekat di badan menjadi jembatan kebersihan hati dari debu-debu dosa.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Meruqyah rumah yang kena gangguan jin

Gangguan Rumah yang bertambah parah setelah kedatangan dukun Oleh muhammad hafidz Sebulan yang lalu kami pernah meruqyah rumah ini ganggua...